4 Negara Mengkonsumsi Ini... Agar "Hidup Panjang Umur"


Berita Terupdate ~ Para peneliti menggunakan 21 model perkiraan (forecasting) untuk menganalisa angka kematian beberapa kelompok usia dalam 50 tahun belakangan. Kemudian mereka memprediksi angka statistik.penelitian itu menengarai terjadinya peningkatan angka harapan hidup di 33 negara yang diteliti. Korea Selatan diduga akan menjadi yang teratas, dengan proyeksi angka harapan hidup 90,8 tahun bagi kaum wanita dan 84 tahun bagi kaum pria.

Penelitian itu tidak mendalami alasan mengapa warga suatu negara tertentu diduga hidup lebih lama daripada yang lain. Demikian menurut salah satu penulis penelitian, James Bennett. Negara-negara berperingkat tinggi dalam penelitian memiliki kesamaan, misalnya akses ke perawatan kesehatan, rendahnya angka merokok, dan makanan yang sehat.

Berikut ini adalah jenis pangan yang lazim di beberapa negara berperingkat tinggi dalam penelitian ini:

Korea Selatan , makanan tradisional Korea sebagai salah satu alasan mengapa warganya diduga hidup lebih lama. Sebagian alasan itu adalah kimchi.



Campuran sayur berfermentasi itu kaya akan probiotik yang menyehatkan pencernaan sehingga membantu mencegah penyakit. Kimchi juga kaya akan serat dan anti-oksidan.

Pangan lazim lainnya di Korea Selatan adalah bibimbap, paduan populer yang terdiri dari nasi, sayur, ulekan cabai merah, telur, dan sedikit sajian daging, bibimbap "mudah ditelan dan kaya akan makanan sehat".


Bukan hanya itu pertumbuhan ekonomi Korea Selatan baru-baru ini telah mempermudah akses perawatan kesehatan "di seluruh lapisan masyarakat" sehingga mengarah kepada "lonjakan" angka harapan hidup.

Prancis, para warganya cenderung hidup lebih panjang umur. Ramalan angka harapan hidup bagi mereka yang lahir pada 2030 bertengger pada 88,6 tahun di antara kaum wanita dan 81,7 tahun bagi kaum pria.Yang menarik, banyak makanan yang dihindari oleh warga Amerika, semisal pangan berkarbohidrat tinggi dan lemah jenuh, tapi malah merupakan hal yang biasa dalam pangan di Prancis.
Warga Prancis mengasup makanan mereka secara berbeda dibandingkan dengan warga Amerika. Warga Prancis kerap memilih beberapa porsi sajian yang lebih kecil yang disantap pada jam makan, bukannya cemilan.



Waktu makan pun dipandang sebagai peristiwa sosial, bukan sekadar apa yang dimakan, tapi juga cara bagaimana seseorang makan. Jika makan sambil menonton TV, orang tidak sadar seberapa banyak yang telah disantap, seperti sedang hilang pikiran.

Keterhubungan dengan teman dan kerabat telah terbukti membantu dalam penuaan secara sehat. Demikian juga halnya dengan kemudahan akses kepada perawatan kesehatan dan layanan sosial yang dinikmati warga Prancis sekarang ini.

Jepang, Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka itu bertengger pada 87 tahun bagi kaum wanita dan 80 tahun bagi kaum pria.

Menjelang 2030, penelitian teranyar ini memproyeksikan angka-angka itu naik menjadi 88,4 tahun bagi kaum wanita dan 82,8 tahun bagi kaum pria.



Pencapaian itu sebagian besar disebabkan oleh pangan tradisional sehat yang berkisar kepada makanan berbasis tanaman dan padat gizi, dihidangkan dalam porsi-porsi kecil.

Kebanyakan makanan Jepang dimulai dengan sup miso yang terbuat dari ulekan miso kaya probiotik dan dibubuhi rumput laut yang kaya vitamin serta mineral seperti iodin dan kalsium.



Pangan lazim lainnya adalah nasi, sayur, dan sajian kecil ikan dari jenis yang kaya omega-3 yang menyehatkan jantung dan otak.

Kata Rosenthal, "Tidak ada bangsa lain yang lebih tergila-gila kepada kesegaran ikan dibandingkan dengan bangsa Jepang". Teh hijau, yang dinikmati secara luas di Jepang, kaya anti-oksidan dan EGCG, suatu polifenol yang dapat membantu mencegah beberapa jenis kanker.

Swiss, Kue berkanji dan coklat berlimpah di Swiss. Angka harapan hidup untuk 2030 adalah 84 tahun bagi kaum pria dan 87,7 tahun bagi kaum wanita. Tapi, semua sajian tersebut diimbangi dengan pangan tersehat, yaitu yoghurt, produk susu yang biasanya dinikmati dengan museli, dalam makanan penutup, maupun disantap begitu saja.Yoghurt kaya akan probiotik yang dapat membantu pencernaan dan menguatkan sistem kekebalan tubuh, sekaligus protein yang menyehatkan.



Apalagi warga Swiss biasanya memilih jenis pangan yang penuh lemak dan tanpa gula sehingga lebih mengenyangkan dan lebih mudah dicerna tubuh. Atmosfer Alpen juga berperan mutu udara yang dihirup membuat lingkungan sangat berbeda



Share on Google Plus

About Belinda Admin

BeritaMataIndonesia.Com - Berita Terakurat dan Terupdate dalam INDONESIA
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar